Yogyakarta (21/11/2025) Dilaksanakan pengajian tafasir At-Tanwir seri 12 yang dibawakan oleh Ustadz Jannatul Husna, Ph.D, pada pengajian ini disampaikan pembahasan mendalam mengenai Surat Al-Baqarah Ayat 47 hingga 53, yang mengandung peringatan penting bagi Bani Israel dan umat Islam. Ayat-ayat ini mengajarkan nilai-nilai syukur, ketakwaan, dan tanggung jawab pribadi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berikut nilai-nilai yang dapat kita pelajari dari Surat Al-Baqarah ayat 47 hingga 53 :
1. Mengingat dan Mensyukuri Nikmat Allah
Dalam ayat 47 Surat AlBaqarah, Allah memerintahkan Bani Israel untuk mengingat ni’mat-Nya yang telah dianugerahkan, yang juga menjadi kewajiban bagi umat Islam. Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi juga bentuk penggunaan ni’mat untuk kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Jika ni’mat digunakan dengan benar, maka dampaknya akan positif bagi diri dan masyarakat, tetapi jika disalahgunakan, akan mendatangkan kerugian.
2. Peringatan tentang Hari Kiamat
pada ayat 48 Surat Al-Baqarah, mengingatkan akan pengadilan di hari kiamat, di mana setiap individu akan bertanggung jawab atas amal perbuatannya sendiri. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at atau menolong selain Allah. Oleh karena itu, menjaga ketakwaan dan mawas diri sangat penting, karena pada hari itu, hubungan kekeluargaan atau pertolongan dari orang lain tidak akan memberi manfaat.
3. Penyelamatan Bani Israel dari Fir’aun
Dalam ayat 49 dan 50 Surat Al-Baqarah, Allah menceritakan bagaimana Bani Israel diselamatkan dari kejaran Fir’aun yang zalim. Ustadz mengaitkan peristiwa ini dengan keyakinan bahwa tirani akan runtuh pada akhirnya, meskipun penguasa yang zalim merasa tidak terkalahkan. Allah menunjukkan bahwa keadilan-Nya akan menang, dan kezaliman pasti akan hancur.
4. Pengkhianatan terhadap Nabi Musa
Di Surat Al-Baqarah ayat 51 dan 52, Allah mengingatkan perbuatan buruk Bani Israel yang mengkhianati Nabi Musa dengan menyembah anak lembu saat Nabi Musa sedang bermunajat. Walaupun mereka melakukan dosa besar, Allah dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya memberikan ampunan dan kesempatan untuk bertaubat. Ini mengajarkan kita tentang pentingnya menepati janji dan tidak mengingkari ni’mat yang telah Allah berikan.
5. Kitab dan Furqan sebagai Petunjuk Hidup
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 53, Allah menurunkan Al-Kitab dan Furqan sebagai petunjuk hidup, yang membedakan yang hak dari yang batil. Bagi umat Islam, Al-Qur’an adalah Furqan yang menjadi panduan dalam menjalani kehidupan. Mengimani dan mengamalkan Al-Qur’an dengan benar akan membawa keberkahan dan menambah ni’mat dalam hidup kita.
6. Hubungan dengan Kaum Yahudi
Ustadz Jannatul Husna, Ph.D juga mengupas hubungan antara Bani Israel dan kaum Yahudi. Meskipun Bani Israel diberi banyak keutamaan oleh Allah, mereka sering mengingkari ni’mat-Nya. Kezaliman dan pengingkaran mereka, yang tercatat dalam sejarah, memberi pelajaran penting bagi umat Islam untuk tidak mengikuti jejak buruk mereka.
7. Pentingnya Syafa’at
Ustadz Jannatul Husna, Ph.D juga menegaskan bahwa syafa’at pada hari kiamat hanya dapat diberikan oleh Nabi Muhammad SAW dan malaikat kepada umat yang Allah izinkan. Al-Qur’an, yang kita baca dan amalkan, juga dapat menjadi syafa’at bagi kita di hari kiamat kelak.
Kesimpulan
Dari tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 47-53, kita belajar untuk senantiasa bersyukur atas segala ni’mat Allah, menjaga takwa, dan bertanggung jawab atas setiap amal perbuatan kita. Kisah Bani Israel menjadi peringatan bagi kita untuk tidak mengingkari ni’mat dan selalu berusaha menjalani hidup dengan penuh iman dan ketaatan kepada Allah.
TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 58-61 : PELANGGARAN PERINTAH TUHAN DAN HUKUMAN ATASNYA
/in BeritaYogyakarta (05/12/2025) – Lembaga Pengembangan dan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan kembali menyelenggarakan kajian rutin Tafsir Al-Qur’an yang membahas Surah Al-Baqarah ayat 58 hingga 61. Kajian dipandu oleh Ustadz Dr. NUR KHOLIS, S.Ag., M.Ag.
1. Ayat 58 — Memasuki Negeri dengan Ketundukan
Dalam penjelasannya, Ustaz Nur memaparkan bahwa Allah memerintahkan Bani Israel untuk memasuki Baitul Maqdis dengan tiga syarat:
• Menikmati rezeki secara halal dan lapang.
• Memasuki kota dengan bersujud, sebagai simbol kerendahan hati dan pengakuan atas kelemahan di hadapan Allah.
• Mengucapkan “khitṭah”, permohonan ampun atas dosa-dosa mereka.
Menurut tafsir At-Tanwir, perintah ini menguji kesiapan spiritual Bani Israel untuk menerima nikmat setelah masa pembangkangan.
Ustaz kemudian mengaitkannya dengan konteks Indonesia: kekayaan alam yang berlimpah harus dikelola dengan rasa syukur, tanggung jawab, dan tidak merusak lingkungan. Tradisi meminta maaf dan introspeksi kolektif juga menjadi nilai penting sebelum melangkah pada pembangunan yang lebih besar.
2. Ayat 59 — Pembangkangan dan Konsekuensinya
Pada ayat 59, sebagian Bani Israel justru mengubah perintah Allah: tidak bersujud dan mengganti kata khitṭah dengan ucapan lain tanpa makna permohonan ampun. Tindakan itu disebut sebagai kezaliman spiritual.
Allah kemudian menurunkan azab dari langit sebagai akibat dari kefasikan yang terus menerus dilakukan.
Dalam konteks kekinian, Ustaz menjelaskan bahwa perilaku serupa terjadi dalam bentuk:
• manipulasi hukum dan kebijakan untuk kepentingan kelompok,
• korupsi, gratifikasi, dan budaya jalan pintas,
• pembiaran kerusakan lingkungan.
Dari ayat ini masyarakat diingatkan bahwa pelanggaran sistematis dapat mengundang bencana dan krisis yang menjadi peringatan bagi seluruh bangsa.
3. Ayat 60 — Keadilan Distribusi Sumber Daya
Ustaz menjelaskan kisah 12 mata air bagi 12 suku Bani Israel sebagai simbol distribusi sumber daya yang adil. Indonesia, sebagai negara kaya air, sering mengalami ketimpangan akses akibat penguasaan sumber daya oleh kelompok tertentu.
Ayat ini mengajarkan bahwa rezeki harus dikelola dan didistribusikan secara merata, sebagaimana terlihat dalam praktik:
• pengelolaan air berbasis masyarakat (PAMSIMAS),
• sistem irigasi adat seperti Subak di Bali,
• gerakan menjaga lingkungan dan konsumsi pangan lokal.
4. Ayat 61 — Sikap Kufur Nikmat dan Konsumerisme
Bani Israel mengeluh bosan karena makanan yang Allah berikan, mann wa salwa, lalu meminta makanan yang kualitasnya lebih rendah. Sikap ini mencerminkan ketidakdewasaan spiritual dan kufur nikmat.
Ustaz mengaitkan kisah ini dengan fenomena masyarakat modern:
• meninggalkan pangan lokal sehat demi makanan instan,
• budaya gengsi dan konsumtif,
• mentalitas jalan pintas dalam mencari rezeki,
• degradasi nilai gotong royong, kejujuran, dan kesederhanaan.
Akibatnya, bangsa bisa mengalami “kehinaan kolektif” seperti ketergantungan impor pangan dan kerusakan ekosistem.
KESIMPULAN
Kajian Tafsir Al-Baqarah ayat 58–61 menegaskan bahwa setiap nikmat dari Allah harus disertai dengan ketundukan, syukur, dan ketaatan. Pembangkangan, ketidaksyukuran, serta penyimpangan terhadap perintah Allah akan membawa kehinaan dan krisis bagi sebuah bangsa. Sementara itu, kejujuran, keadilan, dan pengelolaan sumber daya secara bijak adalah kunci untuk menjaga keberkahan hidup dan terhindar dari azab kolektif.
TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 54–57: PENGINGKARAN BANI ISRAEL ATAS NIKMAT ALLAH DAN AKIBATNYA
/in BeritaYogyakarta (28/11/2025) —Dilaksanakan pengajian tafasir At-Tanwir seri 13 yang dibawakan oleh Ustadz H. Aly Aulia, Lc., M.Hum yang menguraikan pelajaran penting dari kisah Bani Israel. Pembahasan pada ayat 54–57 Surat Al-Baqarah menggambarkan bagaimana Allah memberikan banyak nikmat kepada mereka, namun sebagian dari mereka justru membalasnya dengan pengingkaran, kesyirikan, dan kesombongan. Meski demikian, Allah tetap memberikan kesempatan untuk bertaubat dan menurunkan berbagai bentuk rahmat-Nya.
1. Taubat Berat: Perintah “Membunuh Diri Sendiri” (Ayat 54)
Setelah menyembah patung anak sapi, Allah memerintahkan Bani Israel untuk bertaubat melalui hukuman yang sangat berat. Sebagian mufasir memahami perintah ini secara harfiah sebagai pembunuhan di antara mereka yang bersalah, sementara mufasir lain melihatnya sebagai bentuk pemurnian dan pendidikan keras setelah terjadi kesyirikan besar. Hal ini menunjukkan besarnya dosa syirik dan besarnya rahmat Allah yang masih memberi kesempatan bertaubat.
2. Kesombongan: Menuntut Melihat Allah Secara Nyata (Ayat 55–56)
Meski telah diberi banyak mukjizat, sebagian Bani Israel tetap menuntut untuk melihat Allah sebelum beriman. Permintaan yang melampaui batas ini menunjukkan sifat sombong dan keras kepala. Allah menghukum mereka dengan halilintar, namun kemudian menghidupkan mereka kembali sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Peristiwa ini menjadi pelajaran agar tidak menolak kebenaran hanya karena hawa nafsu dan cara berpikir materialistis.
3. Nikmat di Padang Pasir: Naungan Awan dan Manna-Salwa (Ayat 57)
Selama perjalanan panjang di gurun, Allah melimpahkan nikmat berupa naungan awan untuk melindungi mereka dari panas serta makanan manna dan salwa sebagai rezeki dari langit. Manna adalah makanan manis yang bergizi, sedangkan salwa adalah burung puyuh yang mudah diperoleh. Dua nikmat ini termasuk thayyibât — makanan yang baik dan halal. Namun, sebagian Bani Israel tetap mengingkarinya dan meminta makanan lain yang lebih rendah nilainya.
Pelajaran yang dapat diambil:
Kesimpulan
Ayat 54–57 menjadi pengingat bahwa pengingkaran nikmat Allah, terutama melalui kesyirikan dan kesombongan, selalu mendatangkan akibat buruk. Sebaliknya, ketaatan, syukur, dan ketundukan kepada Allah akan mengantarkan seseorang kepada keselamatan dan rahmat-Nya. Kisah Bani Israel ini menjadi cermin bagi umat Islam agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 47-53: PERINGATAN BAGI BANI ISRAEL DAN UMAT ISLAM
/in BeritaYogyakarta (21/11/2025) Dilaksanakan pengajian tafasir At-Tanwir seri 12 yang dibawakan oleh Ustadz Jannatul Husna, Ph.D, pada pengajian ini disampaikan pembahasan mendalam mengenai Surat Al-Baqarah Ayat 47 hingga 53, yang mengandung peringatan penting bagi Bani Israel dan umat Islam. Ayat-ayat ini mengajarkan nilai-nilai syukur, ketakwaan, dan tanggung jawab pribadi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berikut nilai-nilai yang dapat kita pelajari dari Surat Al-Baqarah ayat 47 hingga 53 :
1. Mengingat dan Mensyukuri Nikmat Allah
Dalam ayat 47 Surat AlBaqarah, Allah memerintahkan Bani Israel untuk mengingat ni’mat-Nya yang telah dianugerahkan, yang juga menjadi kewajiban bagi umat Islam. Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi juga bentuk penggunaan ni’mat untuk kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Jika ni’mat digunakan dengan benar, maka dampaknya akan positif bagi diri dan masyarakat, tetapi jika disalahgunakan, akan mendatangkan kerugian.
2. Peringatan tentang Hari Kiamat
pada ayat 48 Surat Al-Baqarah, mengingatkan akan pengadilan di hari kiamat, di mana setiap individu akan bertanggung jawab atas amal perbuatannya sendiri. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at atau menolong selain Allah. Oleh karena itu, menjaga ketakwaan dan mawas diri sangat penting, karena pada hari itu, hubungan kekeluargaan atau pertolongan dari orang lain tidak akan memberi manfaat.
3. Penyelamatan Bani Israel dari Fir’aun
Dalam ayat 49 dan 50 Surat Al-Baqarah, Allah menceritakan bagaimana Bani Israel diselamatkan dari kejaran Fir’aun yang zalim. Ustadz mengaitkan peristiwa ini dengan keyakinan bahwa tirani akan runtuh pada akhirnya, meskipun penguasa yang zalim merasa tidak terkalahkan. Allah menunjukkan bahwa keadilan-Nya akan menang, dan kezaliman pasti akan hancur.
4. Pengkhianatan terhadap Nabi Musa
Di Surat Al-Baqarah ayat 51 dan 52, Allah mengingatkan perbuatan buruk Bani Israel yang mengkhianati Nabi Musa dengan menyembah anak lembu saat Nabi Musa sedang bermunajat. Walaupun mereka melakukan dosa besar, Allah dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya memberikan ampunan dan kesempatan untuk bertaubat. Ini mengajarkan kita tentang pentingnya menepati janji dan tidak mengingkari ni’mat yang telah Allah berikan.
5. Kitab dan Furqan sebagai Petunjuk Hidup
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 53, Allah menurunkan Al-Kitab dan Furqan sebagai petunjuk hidup, yang membedakan yang hak dari yang batil. Bagi umat Islam, Al-Qur’an adalah Furqan yang menjadi panduan dalam menjalani kehidupan. Mengimani dan mengamalkan Al-Qur’an dengan benar akan membawa keberkahan dan menambah ni’mat dalam hidup kita.
6. Hubungan dengan Kaum Yahudi
Ustadz Jannatul Husna, Ph.D juga mengupas hubungan antara Bani Israel dan kaum Yahudi. Meskipun Bani Israel diberi banyak keutamaan oleh Allah, mereka sering mengingkari ni’mat-Nya. Kezaliman dan pengingkaran mereka, yang tercatat dalam sejarah, memberi pelajaran penting bagi umat Islam untuk tidak mengikuti jejak buruk mereka.
7. Pentingnya Syafa’at
Ustadz Jannatul Husna, Ph.D juga menegaskan bahwa syafa’at pada hari kiamat hanya dapat diberikan oleh Nabi Muhammad SAW dan malaikat kepada umat yang Allah izinkan. Al-Qur’an, yang kita baca dan amalkan, juga dapat menjadi syafa’at bagi kita di hari kiamat kelak.
Kesimpulan
Dari tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 47-53, kita belajar untuk senantiasa bersyukur atas segala ni’mat Allah, menjaga takwa, dan bertanggung jawab atas setiap amal perbuatan kita. Kisah Bani Israel menjadi peringatan bagi kita untuk tidak mengingkari ni’mat dan selalu berusaha menjalani hidup dengan penuh iman dan ketaatan kepada Allah.
UAD Raih Penghargaan PTMA Peduli Cabang, Ranting, dan Masjid Muhammadiyah 2025
/in BeritaBanjarmasin (15/11/2025) — Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional sebagai PTMA Peduli Cabang, Ranting, dan Masjid Muhammadiyah Tahun 2025 dari Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting serta Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada ajang Cabang, Ranting, dan Masjid (CRM) Award VI 2025.
Penghargaan tersebut diserahkan pada malam penutupan ajang Cabang, Ranting, dan Masjid (CRM) Award VI 2025 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (15/11/2025). Malam penganugerahan ini menjadi rangkaian puncak CRM Award VI yang diinisiasi LPCRPM PP Muhammadiyah sebagai bentuk apresiasi terhadap cabang, ranting, masjid, dan perguruan tinggi yang aktif menguatkan basis persyarikatan di akar rumput.
CRM Award VI 2025 sendiri diselenggarakan di Banjarmasin pada 13–16 November 2025 dengan mengusung semangat “memakmurkan masjid, menghebatkan cabang dan ranting.” Kegiatan ini menghimpun berbagai elemen Muhammadiyah dari seluruh Indonesia dalam satu forum untuk saling berbagi praktik baik, memperkuat jaringan dakwah, dan menumbuhkan inspirasi gerakan di tingkat lokal.
Dalam konteks penghargaan PTMA Peduli Cabang, Ranting, dan Masjid Muhammadiyah, UAD dinilai konsisten menunjukkan kepedulian dan keterlibatan nyata dalam penguatan persyarikatan. Berbagai aktivitas dakwah kampus, pengabdian kepada masyarakat, pembinaan masjid dan mushola, serta sinergi dengan cabang dan ranting Muhammadiyah di berbagai daerah menjadi wujud komitmen UAD untuk hadir tidak hanya sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai mitra strategis gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah. Penetapan UAD sebagai penerima anugerah ini mempertegas posisi kampus sebagai salah satu pusat penguatan basis Muhammadiyah yang berkelanjutan.
Penyelenggaraan CRM Award VI 2025 juga menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sebagai garda terdepan dalam pengembangan inovasi dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kualitas pengelolaan masjid. Melalui penghargaan ini, LPCRPM PP Muhammadiyah ingin mendorong PTMA untuk terus mengembangkan program-program yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkontribusi langsung pada penguatan ekosistem cabang, ranting, dan masjid di lingkungan persyarikatan.
INFORMASI HASIL KELULUSAN UJI SERTIFIKASI KOMPETENSI TAHSINUL QUR’AN SEMESTER GASAL T.A 2025/2026
/in Al Islam dan Kemuhammadiyahaan, Kuliah, Pengumuman, Sertifikasi, Sertifikat AIK, Tes Baca Qur'anAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Berikut Informasi Kelulusan Uji Sertifikasi Kompetensi Tahsinul Qur’an Semester Gasal T.A 2025/2026 yang telah dilaksanakan pada Rabu-Kamis, 29-31 Oktober 2025 :
1. Mahasiswa yang terdapat namanya dalam daftar Lampiran berikut adalah mahasiswa yang dinyatakan Lulus pada uji sertifikasi kompetensi Tahsinul Qur’an
2. Mahasiswa yang dinyatakan Lulus dalam uji sertifikasi kompetensi Tahsinul Qur’an, maka nilai uji sertifikasi kompetensi akan menjadi nilai Sertifikasi Kompetensi Tahsinul Qur’an
3. Bagi mahasiswa yang Lulus dalam uji sertifikasi kompetensi Tahsinul Qur’an, tidak diwajibkan untuk mengikuti perkuliahan kelas sertifikasi Kompetensi Tahsinul Qur’an .
4. Bagi mahasiswa yang Tidak Lulus dalam uji kompetensi Baca Al-Qur’an, diwajibkan mengikuti perkuliahan kelas Sertifikasi kompetensi Tahsinul Qur’an yang dilaksanakan pada tanggal pada 24 November 2025 sampai dengan 10 Januari 2026 secara offline
5. Mahasiswa yang tidak hadir dianggap tidak lulus
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
FAST
FEB
FKIP
FKM
PSIKOLOGI
HUKUM
FTI
FSBK
FAKULTAS KEDOKTERAN
FARMASI
UJIAN SUSULAN 10 NOVEMBER 2025
PBI
PSIKOLOGI
SASTRA INGGRIS