TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 54–57: PENGINGKARAN BANI ISRAEL ATAS NIKMAT ALLAH DAN AKIBATNYA
Yogyakarta (28/11/2025) —Dilaksanakan pengajian tafasir At-Tanwir seri 13 yang dibawakan oleh Ustadz H. Aly Aulia, Lc., M.Hum yang menguraikan pelajaran penting dari kisah Bani Israel. Pembahasan pada ayat 54–57 Surat Al-Baqarah menggambarkan bagaimana Allah memberikan banyak nikmat kepada mereka, namun sebagian dari mereka justru membalasnya dengan pengingkaran, kesyirikan, dan kesombongan. Meski demikian, Allah tetap memberikan kesempatan untuk bertaubat dan menurunkan berbagai bentuk rahmat-Nya.
1. Taubat Berat: Perintah “Membunuh Diri Sendiri” (Ayat 54)
Setelah menyembah patung anak sapi, Allah memerintahkan Bani Israel untuk bertaubat melalui hukuman yang sangat berat. Sebagian mufasir memahami perintah ini secara harfiah sebagai pembunuhan di antara mereka yang bersalah, sementara mufasir lain melihatnya sebagai bentuk pemurnian dan pendidikan keras setelah terjadi kesyirikan besar. Hal ini menunjukkan besarnya dosa syirik dan besarnya rahmat Allah yang masih memberi kesempatan bertaubat.
2. Kesombongan: Menuntut Melihat Allah Secara Nyata (Ayat 55–56)
Meski telah diberi banyak mukjizat, sebagian Bani Israel tetap menuntut untuk melihat Allah sebelum beriman. Permintaan yang melampaui batas ini menunjukkan sifat sombong dan keras kepala. Allah menghukum mereka dengan halilintar, namun kemudian menghidupkan mereka kembali sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Peristiwa ini menjadi pelajaran agar tidak menolak kebenaran hanya karena hawa nafsu dan cara berpikir materialistis.
3. Nikmat di Padang Pasir: Naungan Awan dan Manna-Salwa (Ayat 57)
Selama perjalanan panjang di gurun, Allah melimpahkan nikmat berupa naungan awan untuk melindungi mereka dari panas serta makanan manna dan salwa sebagai rezeki dari langit. Manna adalah makanan manis yang bergizi, sedangkan salwa adalah burung puyuh yang mudah diperoleh. Dua nikmat ini termasuk thayyibât — makanan yang baik dan halal. Namun, sebagian Bani Israel tetap mengingkarinya dan meminta makanan lain yang lebih rendah nilainya.
Pelajaran yang dapat diambil:
- Menjaga Tauhid: Syirik adalah dosa besar yang membawa konsekuensi berat.
- Taubat Sejati: Taubat membutuhkan kesungguhan dan komitmen kembali ke jalan yang benar.
- Syukur kepada Allah: Nikmat harus disyukuri agar tidak berubah menjadi azab.
- Menghindari Kesombongan: Sikap keras kepala terhadap perintah Allah hanya merugikan diri sendiri.
Kesimpulan
Ayat 54–57 menjadi pengingat bahwa pengingkaran nikmat Allah, terutama melalui kesyirikan dan kesombongan, selalu mendatangkan akibat buruk. Sebaliknya, ketaatan, syukur, dan ketundukan kepada Allah akan mengantarkan seseorang kepada keselamatan dan rahmat-Nya. Kisah Bani Israel ini menjadi cermin bagi umat Islam agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
