UAD GELAR PEMBINAAN RANTING PERCONTOHAN DAN LUNCURKAN PROGRAM MUBALIGH HIJRAH DI GIRISUBO GUNUNG KIDUL
Girisubo, Gunung Kidul – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta mempererat sinergi dengan Persyarikatan Muhammadiyah melalui serangkaian kegiatan “Pentasyarufan Paket Kado Kasih Sayang” di Girisubo, Gunung Kidul. Acara ini diselenggarakan dalam rangka Milad Muhammadiyah ke-113 dan Milad UAD ke-65, berfokus pada peluncuran program Mubaligh Hijrah dan pembinaan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tileng sebagai ranting model.
Sinergi dan Peran UAD sebagai Keluarga Besar PCM Girisubo
Ketua PCM Girisubo menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran rombongan UAD, terutama Wakil Rektor Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) serta Direktur Lazismu UAD. Ia mengungkapkan bahwa meskipun Girisubo adalah kapanewon terjauh dari UAD, hubungan antara PCM Girisubo dan UAD telah terjalin erat. Sinergi sebelumnya mencakup pembinaan pengelolaan ikan di PRM Tileng bekerja sama dengan Majelis Pemberdayaan PP Muhammadiyah, serta penerjunan KKN selama dua periode terakhir.
Menariknya, Ketua, Sekretaris, dan Bendahara PCM Girisubo merupakan bagian dari keluarga besar UAD, baik sebagai mahasiswa maupun alumni. Dalam sambutannya, Ketua PCM secara resmi memohon agar UAD berkenan membina PRM Tileng untuk merintis sebagai ranting model. Selain itu, PCM Girisubo menyatakan kesiapan untuk menerima program Da’i Hijrah/Mubaligh Ramadan yang akan diterjunkan UAD.
Otoritas LPCR PDM Gunung Kidul dalam Penentuan Lokasi
Sambutan dari Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) PDM Gunung Kidul, yang diwakili oleh Pak Wismanto, menjelaskan proses penentuan lokasi Da’i Hijrah. Setelah diundang untuk musyawarah KKN dan Mubaligh Hijrah, ia memutuskan secara otoriter untuk menunjuk PCM Girisubo sebagai lokasi tanpa musyawarah lebih lanjut di PDM.
• PCM Girisubo disanggupi sebagai lokasi program.
• Jarak tempuh dari kota (titik nol Malioboro) ke Girisubo diperkirakan lebih dari 90 kilometer.
• Pemilihan lokasi ini diharapkan dapat membantu Girisubo agar tidak terlalu tertinggal dibandingkan cabang, ranting, dan masjid lain di Gunung Kidul.
• LPCR PDM Gunung Kidul juga menyampaikan bahwa komposisi peserta Mubaligh Hijrah tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan.
Visi Wakil Rektor: Muhammadiyah sebagai Teladan Abadi dan Sajadah Panjang
Wakil Rektor Bidang AIK UAD, Dr. Nur Kholis S.Ag., M.Ag., mengawali sambutannya dengan menyampaikan cita-cita Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) UAD untuk memiliki desa binaan dan menjadikan satu ranting sebagai ranting andalan/unggulan. Program Mubaligh Hijrah ini menjadi penjajakan awal.
Dr. Nur Kholis menekankan bahwa usia panjang Muhammadiyah (113 tahun) membuat ujiannya semakin berat, terutama terkait ranting dan cabang yang perlu dihidupkan kembali. Ia mencontohkan bagaimana masjid-masjid Muhammadiyah di Jogja dapat dikuasai pihak lain karena ranting/takmir kurang serius dalam mengurus masjid.
UAD berikhtiar mengatasi ujian ini melalui Lazismu UAD dan Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) UAD. Tujuannya adalah agar perguruan tinggi tidak hidup seperti di Menara Gading dan ilmunya dapat diterapkan untuk masyarakat. LPSI berencana membina dua desa/ranting, termasuk Tileng, untuk membuktikan kebermanfaatan ilmu-ilmu yang digodok di UAD.
Mengambil pelajaran dari Nabi Ibrahim yang diuji dan diangkat menjadi teladan (imama), Dr. Nur Kholis menyampaikan konsep teladan ranting/cabang yang berhasil.
• Ranting atau cabang yang bagus adalah yang mampu memajukan ranting/cabang sebelahnya yang masih belum maju.
• Ranting yang maju harus mampu menjadi teladan abadi.
• Mengutip ayat Al-Qur’an, ia menekankan bahwa teladan tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim (syirik, maksiat, aniaya).
• Muhammadiyah adalah sajadah panjang untuk sujud dan beramal saleh, dengan fokus pada pembangunan masyarakat yang sebenarnya, bukan hanya membesarkan organisasinya.
Dr. Nur Kholis, yang mengaku sebagai mualaf dari NU ke Muhammadiyah, menegaskan kenyamanan dan keseriusannya dalam ber-Muhammadiyah, terutama karena fokusnya pada pembangunan masyarakat agar makmur, berbeda dengan tempat lain yang tokoh agamanya makmur tetapi masyarakatnya miskin.
Detail Teknis Program Mubaligh Hijrah dan Sambutan PRM Tileng
Kepala Bidang Kemasyarakatan LPSI UAD, Ustadz Muh Saeful Effendi, M.Pd.B.I., menyampaikan rincian program Mubaligh Hijrah.
• Program akan berlangsung sekitar satu bulan, diawali satu minggu menjelang Ramadan dan diakhiri satu minggu sebelum Idul Fitri.
• Meskipun yang mendaftar banyak perempuan, komposisi Mubaligh Hijrah yang akan diterjunkan adalah laki-laki dan perempuan (perbandingan 1:2).
• Takmir diminta menyiapkan tempat terpisah; masjid/musala untuk mahasiswa laki-laki, dan rumah untuk mahasiswa perempuan.
• Kualifikasi Mubaligh laki-laki: bisa azan, jadi imam, hafal surah dan kualitas bacaan baik, bisa khutbah Jumat, kultum, dan memiliki kompetensi tambahan TIK untuk membangun dakwah digital.
• Kualifikasi Mubaligh perempuan: bisa mengajar Al-Qur’an, kultum (untuk kajian ibu-ibu/remaja), dan program manajemen masjid (administrasi, keuangan, acara).
• Program ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk pengabdian dosen di masa mendatang.
Di akhir sesi, perwakilan Pengurus PRM Tileng, Bapak Nur, menyampaikan kehormatan atas kehadiran tim UAD. Beliau menyatakan kesiapan total PRM Tileng untuk didampingi UAD hingga menjadi ranting yang berhasil. Secara blak-blakan, permohonan prioritas utama PRM Tileng adalah dana. Selain itu, beliau menawarkan aset PRM Tileng berupa delapan ekor kambing hasil gaduhan dari donatur untuk dijadikan potensi kerjasama, siap untuk kurban.
Penutup dan Tindak Lanjut Program ini menandai komitmen UAD untuk berperan aktif dalam pengembangan dakwah dan pemberdayaan masyarakat, khususnya di wilayah terpencil seperti Girisubo, dengan menjadikan PRM Tileng sebagai pilot project Ranting Model UAD.



