TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 63-66 : PELANGGARAN JANI DAN GANJARAN ATASNYA
Yogyakarta (19/12/2025) – Lembaga Pengembangan dan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan kembali menyelenggarakan Pengajian Rutin Tafsir At-Tanwir dengan menghadirkan narasumber Dr. Nur Kholis, S.Ag., M.Ag. Kegiatan yang berlangsung secara online melalui Zoom dan YouTube ini membahas Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 63–66, dengan fokus tema “Pelanggaran Janji dan Ganjaran Atasnya.”
Dalam pemaparannya, Dr. Nur Kholis menjelaskan bahwa rangkaian ayat 63–66 mengisahkan pengambilan janji suci (mitsaq) Bani Israil, ujian kepatuhan mereka terhadap perintah Allah, hingga konsekuensi serius akibat pelanggaran janji tersebut. Kisah ini tidak sekadar sejarah, melainkan pelajaran moral dan spiritual yang relevan bagi umat sepanjang zaman.
Ayat 63: Janji Suci dan Ujian Kepatuhan
Ayat ini menggambarkan peristiwa pengambilan janji Bani Israil ketika Allah mengangkat Gunung Thursina di atas mereka sebagai bentuk penegasan agar mereka memegang teguh Taurat. Menurut Tafsir At-Tanwir, peristiwa ini menunjukkan bahwa iman dan ketaatan menuntut kesungguhan, konsistensi, dan kesadaran penuh, bukan kepatuhan sesaat karena tekanan. Allah memberi kesempatan kepada Bani Israil sebagai wujud rahmat-Nya, agar mereka benar-benar bertakwa.
Ayat 64: Ketidakkonsistenan dalam Menepati Janji
Pada ayat ini ditegaskan bahwa setelah janji tersebut, Bani Israil justru kembali berpaling. Dr. Nur Kholis menjelaskan bahwa sikap ini mencerminkan watak manusia yang mudah lupa dan ingkar ketika merasa aman. Seandainya bukan karena karunia dan rahmat Allah, mereka termasuk golongan orang-orang yang merugi. Ayat ini menjadi peringatan agar manusia menjaga komitmen iman dalam segala kondisi.
Ayat 65: Pelanggaran Sabat dan Keruntuhan Martabat
Ayat 65 mengisahkan pelanggaran Bani Israil terhadap larangan pada hari Sabat. Godaan duniawi berupa melimpahnya ikan membuat sebagian dari mereka menghalalkan pelanggaran aturan Allah. Hukuman “menjadi kera yang hina” dalam Tafsir At-Tanwir dimaknai sebagai kehancuran martabat moral dan spiritual, yaitu perilaku manusia yang dikendalikan hawa nafsu tanpa pertimbangan akal dan nilai ketuhanan.
Ayat 66: Peringatan Sepanjang Zaman
Pada ayat 66, Allah menegaskan bahwa peristiwa tersebut dijadikan peringatan bagi generasi saat itu dan generasi setelahnya, sekaligus pelajaran khusus bagi orang-orang yang bertakwa. Kisah ini tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi menjadi cermin agar umat manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Pesan dan Relevansi Kekinian
Dr. Nur Kholis menekankan bahwa kisah Bani Israil relevan dengan tantangan modern. “Ikan-ikan Sabat” hari ini dapat berwujud korupsi, hedonisme, penyimpangan moral, dan berbagai godaan duniawi yang menggiring manusia melanggar nilai dan janji keimanannya. Karena itu, ketakwaan harus menjadi benteng utama dalam kehidupan pribadi dan sosial.


