TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 92-96 : PENYIMPANGAN BANI ISRAIL DARI KEBENARAN RISALAH NABI MUHAMMAD SAW
Yogyakarta (12/12/2025) – Lembaga Pengembangan dan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan kembali menyelenggarakan Pengajian Rutin Tafsir At-Tanwir dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Ustadi Hamsah, M.Ag. Kegiatan yang berlangsung secara online melalui Zoom dan YouTube ini membahas Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 92–96, dengan fokus tema “Penyimpangan Bani Israel atas Kebenaran Risalah Nabi Muhammad SAW.”
Ayat 92 – Pengingatan tentang mukjizat dan nikmat kepada Bani Israel
Ayat ini mengingatkan kembali bahwa Bani Israel telah diberi banyak nikmat dan mukjizat (mis. manna-wasalwa, pemisahan laut, mata air Nabi Musa) agar mereka patuh kepada para Nabi, terutama Musa. Meski demikian, sejarah menunjukkan mereka sering menentang dan menyimpang dari perintah Allah. Prof. Ustadi menekankan ayat ini sebagai calling memory — alat untuk mengingatkan umat saat menghadapi penentangan serupa.
Ayat 93 — Penegasan janji yang dilanggar
Ayat ini menyorot bahwa Bani Israel pernah berjanji (mis. saat di Gunung Tursina) untuk menaati Allah, namun janji itu dilanggar; mereka hanya “mendengar” tetapi tidak taat. Prof. Ustadi menggunakan contoh sejarah (penyembahan anak sapi) untuk menunjukkan inkonsistensi antara sumpah/ucap dan tindakan nyata.
Ayat 94 — Tantangan terhadap klaim kepemilikan surga
Ayat ini mengandung tantangan kepada mereka yang mengklaim bahwa surga eksklusif milik mereka: “Kalau kalian benar, maka wafatlah kalian sekarang, jika kalian memang benar-benar menghendaki.” Prof. Ustadi menjelaskan bahwa perintah retoris ini menyingkap hipokrisi klaim tersebut—kalau memang benar, mereka tidak rela mati untuk membuktikannya.
Ayat 95 — Pembongkaran klaim dan mekanisme pembenaran diri
Ayat lanjutan yang menunjuk bahwa mereka tidak akan memenuhi tantangan itu karena mereka lebih memilih hidup; mereka menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan klaim benar mereka. Dalam kajian, Prof. Ustadi mengaitkan sikap ini dengan konsep psikologi modern: confirmation bias, Dunning-Kruger, dan backfire effect—yaitu ketika seseorang mempertahankan kesalahan dengan justifikasi dan citra supaya tetap “benar”.
Ayat 96 — Sifat tamak/rakus dan orientasi duniawi
Ayat ini menggambarkan sebagian dari Bani Israel sebagai sangat tamak terhadap kehidupan dunia sehingga mereka tidak rela menyerahkan keinginan hidup duniawi — bahkan digambarkan seakan ingin hidup seribu tahun demi mengecap kenikmatan dunia. Prof. Ustadi menekankan bahwa panjang umur bukan ukuran kebahagiaan atau kebermaknaan; yang terpenting adalah kualitas dan makna hidup (legasi).
Di akhir kajian, Prof. Ustadi menekankan beberapa pelajaran penting, salah satunya adalah agar umat Islam tidak meniru sifat-sifat buruk yang dikisahkan pada Bani Israel: menentang kebenaran, rasis, tamak, serta fanatisme buta. Beliau mengajak jamaah untuk memperkuat ketaatan kepada Allah dan Rasul sebagai jalan keselamatan, serta mengisi kehidupan dengan kebermaknaan, bukan sekadar mengejar panjang umur atau kenikmatan dunia.


