TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 58-61 : PELANGGARAN PERINTAH TUHAN DAN HUKUMAN ATASNYA
Yogyakarta (05/12/2025) – Lembaga Pengembangan dan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan kembali menyelenggarakan kajian rutin Tafsir Al-Qur’an yang membahas Surah Al-Baqarah ayat 58 hingga 61. Kajian dipandu oleh Ustadz Dr. NUR KHOLIS, S.Ag., M.Ag.
1. Ayat 58 — Memasuki Negeri dengan Ketundukan
Dalam penjelasannya, Ustaz Nur memaparkan bahwa Allah memerintahkan Bani Israel untuk memasuki Baitul Maqdis dengan tiga syarat:
• Menikmati rezeki secara halal dan lapang.
• Memasuki kota dengan bersujud, sebagai simbol kerendahan hati dan pengakuan atas kelemahan di hadapan Allah.
• Mengucapkan “khitṭah”, permohonan ampun atas dosa-dosa mereka.
Menurut tafsir At-Tanwir, perintah ini menguji kesiapan spiritual Bani Israel untuk menerima nikmat setelah masa pembangkangan.
Ustaz kemudian mengaitkannya dengan konteks Indonesia: kekayaan alam yang berlimpah harus dikelola dengan rasa syukur, tanggung jawab, dan tidak merusak lingkungan. Tradisi meminta maaf dan introspeksi kolektif juga menjadi nilai penting sebelum melangkah pada pembangunan yang lebih besar.
2. Ayat 59 — Pembangkangan dan Konsekuensinya
Pada ayat 59, sebagian Bani Israel justru mengubah perintah Allah: tidak bersujud dan mengganti kata khitṭah dengan ucapan lain tanpa makna permohonan ampun. Tindakan itu disebut sebagai kezaliman spiritual.
Allah kemudian menurunkan azab dari langit sebagai akibat dari kefasikan yang terus menerus dilakukan.
Dalam konteks kekinian, Ustaz menjelaskan bahwa perilaku serupa terjadi dalam bentuk:
• manipulasi hukum dan kebijakan untuk kepentingan kelompok,
• korupsi, gratifikasi, dan budaya jalan pintas,
• pembiaran kerusakan lingkungan.
Dari ayat ini masyarakat diingatkan bahwa pelanggaran sistematis dapat mengundang bencana dan krisis yang menjadi peringatan bagi seluruh bangsa.
3. Ayat 60 — Keadilan Distribusi Sumber Daya
Ustaz menjelaskan kisah 12 mata air bagi 12 suku Bani Israel sebagai simbol distribusi sumber daya yang adil. Indonesia, sebagai negara kaya air, sering mengalami ketimpangan akses akibat penguasaan sumber daya oleh kelompok tertentu.
Ayat ini mengajarkan bahwa rezeki harus dikelola dan didistribusikan secara merata, sebagaimana terlihat dalam praktik:
• pengelolaan air berbasis masyarakat (PAMSIMAS),
• sistem irigasi adat seperti Subak di Bali,
• gerakan menjaga lingkungan dan konsumsi pangan lokal.
4. Ayat 61 — Sikap Kufur Nikmat dan Konsumerisme
Bani Israel mengeluh bosan karena makanan yang Allah berikan, mann wa salwa, lalu meminta makanan yang kualitasnya lebih rendah. Sikap ini mencerminkan ketidakdewasaan spiritual dan kufur nikmat.
Ustaz mengaitkan kisah ini dengan fenomena masyarakat modern:
• meninggalkan pangan lokal sehat demi makanan instan,
• budaya gengsi dan konsumtif,
• mentalitas jalan pintas dalam mencari rezeki,
• degradasi nilai gotong royong, kejujuran, dan kesederhanaan.
Akibatnya, bangsa bisa mengalami “kehinaan kolektif” seperti ketergantungan impor pangan dan kerusakan ekosistem.
KESIMPULAN
Kajian Tafsir Al-Baqarah ayat 58–61 menegaskan bahwa setiap nikmat dari Allah harus disertai dengan ketundukan, syukur, dan ketaatan. Pembangkangan, ketidaksyukuran, serta penyimpangan terhadap perintah Allah akan membawa kehinaan dan krisis bagi sebuah bangsa. Sementara itu, kejujuran, keadilan, dan pengelolaan sumber daya secara bijak adalah kunci untuk menjaga keberkahan hidup dan terhindar dari azab kolektif.

