Baitul Arqam Mahasiswa S1 angkatan 2025 Universitas Ahmad Dahlan
/in Informasi, Kaderisasi, Kuliah, Layanan, Pembinaan Mahasiswa, Pengumuman, UAD
Assalamualaikum, Hai Dahlan Muda khusus Mahasiswa S1 angkatan 2025 mimin ingin bagi info nih bahwa Baitul Arqam Mahasiswa sarjana Angkatan 2025 akan dilaksanakan dalam 2 Sesi :
Sesi 1 : 08-09 Mei 2026
Sesi 2 : 05-06 Juni 2026
Yuks segera daftarkan diri mu melalui portal masing – masing
Pendaftaran dari tanggal 20-24 April 2026
Langkah – langkah pendaftaran :
Buka Akun Portalnya masing – masing (https://portal.uad.ac.id/)
Pilih menu Kemahasiswaan – pilih baitul arqam – pilih pendaftaran
Pilih Sesi yang akan dikuti – pilih daftar
Jika sudah muncul tanda hijau di bagian atas maka “selamat anda sudah terdaftar
segera daftarkan dirimu, sebelum masa pendaftaran berakhir😃🙌!!!
Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi narahubung dibawah ini :
CP : +62 812-3706-3289/ +62 895-6379-67665
Baitul Arqam Kaprodi UAD
/in Berita, UADLembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menyelenggarakan Baitul Arqam (BA) untuk Ketua Program Studi (Kaprodi) di lingkungan UAD yang bertajuk “Peneguhan Ideologi dan Kepemimpinan Menuju Good University Governance”. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat-Sabtu, 25-26 Agustus 2023 di @K Hotel Kaliurang Jl. Tlogo Putri, Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman. Selain Kaprodi di lingkungan UAD, turut hadir Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Rektor UAD, Wakil Rektor Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) UAD, dan Kepala LPSI UAD.
Acara diawali dengan pembukaan dilanjut dengan penyampaian sambutan dari Kepala LPSI, Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah, dan dibuka langsung oleh Rektor UAD Yogyakarta. Setelah sambutan, dilakukan penyerahan secara simbolis peserta BA dari Kepala LPSI kepada Master of Training (MOT). Baitul Arqam ini sudah ada panduan penyelenggaraannya yang kerap disebut dengan Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM). Di dalam SPM sudah ada kurikulum tentang muatan-muatan materinya. Oleh karena itu, LPSI menaati panduan perkaderan itu sehingga di dalam kegiatan ada proses pembelajaran baik di dalam kelas ataupun di luar kelas.
“Baitul Arqam (BA) adalah bentuk perkaderan formal di lingkungan Muhammadiyah pada semua level meliputi pengurus Muhammadiyah itu sendiri dan juga diberlakukan dalam perkaderan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) atau Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Pada kesempatan ini, LPSI mengadakan BA untuk seluruh Kaprodi S-1, S-2, dan S-3 di lingkungan UAD Yogyakarta atau sering disebut BA untuk pimpinan/middle manager. Selanjutnya, tidak hanya BA untuk pimpinan saja tetapi akan ada juga BA untuk top manager seperti Dekan, Wakil Dekan, Kepala Lembaga, dan lain sebagainya, Selain materi-materi, dalam acara tersebut juga terdapat diskusi, outbound, shalat malam, tadarus Fathul Qulub, kultum, dan praktik ibadah praktis. Baitul Arqam ini sudah ada panduan penyelenggaraannya yang kerap disebut dengan Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM). Di dalam SPM sudah ada kurikulum tentang muatan-muatan materinya. Oleh karena itu, LPSI menaati panduan perkaderan itu sehingga di dalam kegiatan ada proses pembelajaran baik di dalam kelas ataupun di luar kelas.” tutur Hendra Darmawan, S.Pd., M.A. dalam sebuah wawancara beberapa hari lalu.
Lebih lanjut dalam wawancaranya, ia menjelaskan bahwa tujuan diadakannya Baitul Arqam ini untuk meningkatkan pemahaman, kapasitas dan kompetensi Kaprodi, serta tidak parsial dalam menyikapi bahwa berprofesi di PTM itu tidak sekadar dosen saja tetapi ada nilai yang harus menjadi ruhiyat. “Menjadi dosen di PTM juga harus menjadi penggerak dakwah, pengkader, dan memastikan keberlangsungan regenerasi. Sehingga para Kaprodi ini tidak hanya melakukan pembinaan terhadap HMPS saja, tetapi juga terhadap ortom yang ada di lingkungan fakultas,” Imbuh Hendra.
Kurang lebih terdapat 48 Kaprodi yang hadir dalam kegiatan Baitul Arqam Pimpinan UAD Yogyakarta. “Bagi Kaprodi yang belum mengikuti kegiatan BA itu akan diikutsertakan dalam kegiatan BA selanjutnya, yaitu BA untuk Sekretaris Prodi. Kegiatan BA didukung penuh oleh Rektor karena BA ini merupakan program LPSI yang sudah disahkan oleh Pimpinan. Bahkan, Rektor juga menjadi salah satu narasumber yang menyampaikan tentang tata kelola perguruan tinggi.
Harapan rencana tindak lanjut dari kegiatan tersebut adalah para Kaprodi dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan Muhammadiyah tidak hanya di dalam kampus tetapi juga di cabang domisilinya. Selain itu dapat mengimplementasikan materi-materi dalam kegiatan BA tersebut khususnya yang berkaitan dengan pedoman dan tuntunan, praktek ibadah para dosen dan karyawan diharapkan juga sesuai dengan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah, serta meningkatkan literasi dakwah Muhammadiyah di lingkungan para dosen.
SBY tidak Profesional dan tidak Porsional
/in Makalah, UADWajiran, S.S., M.A.
(Dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)
Model kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah lama diragukan untuk bisa membantu menyelesaikan persoalan-persoalan di negeri ini. Pasalnya, banyak persoalan yang justru lahir dari model kepemimpinannya sendiri. Meskipun terlihat santun dan bijak tetapi ternyata banyak hal yang sebenarnya bertentangan dengan apa yang harus dilaksanakan sebagai seorang pemimpin bangsa. Wajar jika masyarakat banyak menilai model kepemimpinan SBY lebih banyak hanya tebar pesona. Akhirnya banyak kebijakan-kebijakan yang sekedar menyenangkan tetapi tidak menyelesaikan persoalan.
Persoalan pertama yang sangat mencolok adalah kebijakan membagikan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Keputusan memberikan BLT ini jelas-jelas tidak menyelesaikan persoalan ekonomi rakyat, karena dampak kenaikan BBM dengan jumlah nominal BLT tidak sebanding. Itu sebabnya BLT pernah diartikan sebagai Bantuan Langsung Tewas. Meskipun mendapat BLT masyarakat miskin tetap saja hidup dalam kesulitan, karena dampak dari kenaikan BBM merambah pada naiknya harga-harga kebutuhan pokok lainya.
Strategi ini sebenarnya hanya untuk menekan gejolak atas kebijakan menaikan harga BBM yang diambil SBY, tidak pro rakyat. Setrategi ini nampaknya berhasil menekan atau membungkam perlawanan rakyat atas kebijakan menaikan harga BBM. Apakah rencana kenaikan BBM tahun ini juga akan diikuti dengan model BLT model baru? Kita tunggu saja.
Kedua, sering kali SBY terlihat tidak tegas dengan persoalan-persoalan yang membelit orang-orangnya sendiri, terutama dari kalangan partai Demokrat. Sudah banyak kader partai ini yang secara jelas terjebak dalam ranah hukum kaitannya dengan proyek-proyek yang dijalankan kabinet pemerintahanya. Kita tidak melihat ketegasan SBY sebagai Penasehat partai Demokrat terhadap pelanggaran yang dilakukan kader-kader partai yang didirikanya itu. Ada kecenderungan SBY memberi dukungan kepada kadernya yang terjebak dalam kubangan kejahatan korupsi. Ketidaktegasan SBY nampak jelas pada sikapnya terhadap kader-kader partainya; Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng dan lain sebagainya.
Ketiga, kepemimpinan SBY juga nampak tidak tegas terhadap anggota kabinet yang tidak profesional. SBY cenderung menghindari konfrontasi dari lawan-lawan politik atau partai oposisi, sehingga tidak berani tegas terhadap para menteri yang tidak profesional. Pengamat politik Arbi Sanit pernah menjuluki SBY sebagai presiden taksi, yang tidak pernah bisa tegas terhadap sopir-sopirnya meskipun membebani perusahaannya. SBY cenderung mencari aman agar partai dimana anggota kabinet bernaung tidak menentang kebijakan dan mengkritiknya. Kalau SBY menertibkan menteri-menteri yang tidak profesional pasti partai pendukung menteri itu akan mengambil jalan oposisi frontal.
Keempat, kasus terakhir ketidakprofesioanalan dan ketidakproporsionalan SBY nampak atas kebijakan SBY untuk tetap mengurusi partai demokrat meskipun ia sedang mengemban amanah berat sebagai Presiden. Sikap mendua ini tentu akan sangat menggangu kinerja SBY sebagai seorang presiden. Selain dibebani tugas-tugas berat kenegaraan, SBY juga harus memikirkan keberlangsungan partai Demokrat. Bahkan kasus terakhir SBY sering membicarakan atau membahas persoalan-persoalan partai di Istana Negara yang seharusnya bebas dari persoalan pembahasan kepentingan golongan, termasuk persoalan partai politik yang dinahkodainya.
Model kepemimpinan ala SBY ini sangat tidak efektif dalam membangun bangsa ini. Pasalnya jika setiap pemimpin hanya mencari aman, maka kepentingan rakyat akan dikesampingkan. Model kepemimpinanya tidak bisa mendukung peningkatan kualitas hidup bangsa ini untuk lebih maju, karena justru melahirkan orang-orang yang berprinsip asal bapak senang, yang akhirnya merugikan nama baik pemerintahanya sendiri. Di samping itu, terlihat juga sistem demokrasi tidak berjalan secara maksimal, karena adanya pengekangan dimana-mana, meskipun secara terselubung atau dengan cara-cara yang sangat santun.
Sebagai seorang pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat, seharusnya ia berani mengambil langkah untuk kepentingan rakyat. Bukan sekedar mencari aman diri sendiri dengan mengakomodasi berbagai kepentingan yang cenderung menjerumuskan pemerintahannya dalam kubangan korupsi dan manipulasi. Bangsa ini membutuhkan seorang pemimpin yang bukan hanya bisa menyejukan hati dan pikiran rakyat, tetapi juga seorang pemimpin yang berani mengambil keputusan-keputusan yang bisa menyelesaikan persoalan riil bangsa ini. Itu sebabnya ia harus bebas dari tendensi mementingkan diri sendiri, keluarga dan golongan.
Kita hanya berharap model kepemimpin SBY ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa bangsa ini membutuhkan pemimpin yang tegas dan berani “pasang badan” demi kepentingan bersama. Hanya pemimpin berjiwa besar, yang bebas dari kepentingan golongan, yang akan memajukan bangsa yang sangat besar ini. Wallhua’lam bishawab.
Sumber : www.uad.ac.id
