TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 97-101 : RESPOND AL-QUR’AN ATAS PENGINGKARAN BANI ISRAIL TERHADAP AL-QUR’AN
Yogyakarta (23/01/2026) – Lembaga Pengembangan dan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan kembali menyelenggarakan Pengajian Rutin Tafsir At-Tanwir seri ke-21 secara daring melalui Zoom dan YouTube. Kajian kali ini menghadirkan narasumber Ustaz Dr. Miftah Khilmi Hidayatulloh, Lc., M.Hum. dengan moderator Ustaz Dian Fathurahman. Pembahasan berfokus pada Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 97–101 dengan tema besar “Respon Al-Qur’an atas Pengingkaran Bani Israil terhadap Al-Qur’an.”
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa rangkaian ayat 97–101 berada pada bagian yang menyoroti dakwah kepada Bani Israil serta pelajaran dari sikap mereka terhadap wahyu. Tafsir At-Tanwir memetakan ayat-ayat ini sebagai penegasan Al-Qur’an terhadap berbagai bentuk penolakan yang dilakukan sebagian kalangan Ahlul Kitab, sekaligus mengingatkan umat Islam agar senantiasa menguatkan hubungan dengan Al-Qur’an melalui membaca, memahami, dan mengamalkannya secara konsisten.
Ayat 97: Jibril sebagai Pembawa Wahyu dan Bantahan atas Penolakan
Ayat 97 diawali dengan perintah “Qul” sebagai penegasan agar Nabi Muhammad SAW menyampaikan jawaban yang tegas terhadap alasan-alasan penolakan. Dalam konteks historis, sebagian dari Bani Israil menolak beriman karena Al-Qur’an diturunkan melalui Malaikat Jibril. Mereka mengaitkan Jibril dengan citra pembawa peperangan dan azab, sehingga menjadikannya dalih untuk menolak risalah. Ustaz Dr. Miftah menegaskan bahwa Al-Qur’an membantah anggapan tersebut: Jibril adalah utusan yang menurunkan wahyu ke hati Nabi Muhammad SAW atas izin Allah, dan wahyu itu hadir sebagai pembenar kitab-kitab sebelumnya, petunjuk, serta kabar gembira bagi orang-orang beriman.
Ayat 98: Memusuhi Utusan Allah Bermakna Memusuhi Allah
Pada ayat 98, Al-Qur’an memperluas penegasan bahwa memusuhi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, termasuk Jibril dan Mikail, merupakan sikap yang mengantarkan seseorang pada posisi bermusuhan dengan Allah. Pesan ayat ini menegaskan prinsip keimanan: penghormatan kepada wahyu dan para utusan Allah tidak dapat dipilah sesuai selera, karena seluruhnya berada dalam satu rangkaian misi ketuhanan. Sikap permusuhan terhadap pembawa risalah sejatinya adalah penolakan terhadap sumber risalah itu sendiri.
Ayat 99: “Ayat-Ayat yang Jelas” dan Akar Penolakan
Ayat 99 menyebut Al-Qur’an sebagai “ayat-ayat yang jelas” (ayat bayyinat). Dalam penjelasan narasumber, istilah ini menunjukkan bahwa ajaran Al-Qur’an ditopang oleh dasar yang kuat, baik dari sisi argumentasi akidah, tuntunan amal, maupun manfaat yang dapat dirasakan dalam kehidupan. Karena itulah, penolakan terhadap ayat-ayat yang jelas biasanya bukan disebabkan ketiadaan bukti, melainkan karena kecenderungan perilaku yang menyimpang. Ayat ini menegaskan bahwa yang mengingkari ayat-ayat tersebut pada umumnya adalah orang-orang yang fasik.
Ayat 100: Ingkar Janji sebagai Ciri Kefasikan
Ayat 100 menggambarkan kebiasaan sebagian Bani Israil yang mudah berjanji namun juga mudah melanggar janji. Narasumber menekankan bahwa inkonsistensi dalam komitmen spiritual dan sosial merupakan salah satu tanda kefasikan. Dalam konteks kehidupan beragama, janji tidak hanya dipahami sebagai pernyataan lisan, tetapi sebagai komitmen moral dan tanggung jawab di hadapan Allah. Ayat ini menjadi peringatan agar manusia menjaga integritas dan kesungguhan dalam memegang amanah, baik dalam ibadah maupun muamalah.
Ayat 101: “Seakan-akan Tidak Tahu” dan Bahaya Menolak Kebenaran
Pada ayat 101, Al-Qur’an menyindir sikap sebagian Ahlul Kitab yang “melempar Kitab Allah ke belakang punggung,” seolah-olah tidak mengetahui kebenaran yang ada di dalamnya. Ustaz Dr. Miftah menjelaskan bahwa problem utama pada fase ini bukan sekadar ketidaktahuan, melainkan kepura-puraan: mengetahui kebenaran tetapi enggan mengikutinya. Sikap tersebut pada akhirnya menumpulkan kepekaan hati, memudarkan tuntunan fitrah, dan membuat seseorang semakin jauh dari jalan kebenaran.
Pesan dan Relevansi
Kajian ini menegaskan bahwa penolakan terhadap kebenaran sering kali muncul bukan karena kurangnya dalil, melainkan karena faktor batin, seperti kesombongan, iri, dan kecenderungan mempertahankan kepentingan. Karena itu, umat Islam diajak untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk yang menghidupkan hati, bukan sekadar bacaan rutin. Narasumber juga menekankan pentingnya adab keilmuan dalam thalabul ‘ilmi: ketika belum mengetahui suatu persoalan, menyampaikan “tidak tahu” merupakan bentuk kehati-hatian dan tanggung jawab ilmiah, bukan menyembunyikan ilmu.
Sebagai penutup, Ustaz menegaskan bahwa iman harus senantiasa menyatu dengan amal saleh. Keduanya tidak dapat dipisahkan, dan kualitasnya perlu terus ditingkatkan melalui upaya yang konsisten. Kajian diakhiri dengan doa penutup majelis serta harapan agar jamaah diberi kekuatan untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an dalam aspek pemahaman dan pengamalan.

