Pengajian Muhasabah-Refleksi Akhir Tahun

Dalam rangka menyongsong tahun baru Miladiyah 2015 , Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) mengadakan Pengajian Muhasabah sebagai salah satu bentuk dari Refleksi Akhir tahun. Hadir sebagai penceramah Prof. Dr. H.M.Amien Rais, M.A. More »

Rangkaian Lomba Keagamaan MILAD UAD 54th

Dalam rangka menyambut MILAD Universitas Ahmad Dahlan ke 54 Tahun, maka serangkaian acara pun dilaksanakan, termasuk Lomba Keagamaan yang diikuti oleh peserta dari Tingkat SMA / SMK /MA Muhammadiyah se Daerah Istimewa Yogyakarta. More »

Desain Kampus dan Masjid Islamic Modern UAD

Inilah desain bangunan yang menjulang 10 lantai akan menjadi pusat kegiatan akademik UAD menuju World Class University di Indonesia. Masjid Kampus Universitas Ahmad Dahlan akan menjadi Modern Islamic Center di Yogyakarta pada masa datang. More »

Pelatihan Khutbah

Pelatihan khutbah diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan di ikuti oleh seluruh dosen dan karyawan UAD, More »

 

Tag Archives: uad

Pengantar Ilmu Dakwah (Sertifikasi III)

buku-21

“Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mencegah dengan tangan (kekerasan atau kekuasaan), jika ia tidak sanggup dengan demikian ( sebab tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan), maka dengan lidahnya, dan jika tidak mampu (dengan lidahnya) yang demikian itu adalah selemah-lemah iman”. (H.R Muslim)

Dakwah Islam adalah ajakan yang tujuannya dapat tercapai hanya dengan persetujuan tanpa ada paksaan dari objek dakwah, karena tujuannya untuk meyakinkan objek dakwah. Dakwah islam merupakan ajakan untuk berfikir, berdebat, dan berargumen, dan untuk menilai suatu kasus yang muncul. Dakwah Islam tidak dapat disikapi dengan keacuhan kecuali oleh orang-orang yang sinis dengan penolakan atau berhati dengk. Dakwah menyeru semua manusia kepada Nya, karena semua manusia adalah makhluk Nya.

Alhamdulillah, atas izin Allah buku Pengantar Ilmu Dakwah (Sertifikasi III) telah selesai disusun. Buku materi Pengantar Ilmu Dakwah ini adalah buku pegangan kedua bagi mahasiswa yang mengikuti perkuliahan AIK Intensif Sertifikasi, setelah buku Akhlak Seorang Muslim. Buku ini berisi pengertian dakwah, hakekat, hukum, tujuan, hingga petunjuk praktek dakwah.

Buku Pengantar Ilmu Dakwah ini disusun untuk memudahkan mahasiswa dalam mencari rujukan dan sumber informasi mengenai dakwah. Karena bentuk buku ini didesain sebagai buku saku, maka juga berfungsi secara praktis untuk kegiatan dakwah di lapangan misalnya pada saat bakti sosial maupun KKN.

Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh tim yang terlibat dalam penyusunan buku ini. Atas jerih payahnya kami mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya, semoga Allah memberikan ganjaran yang setimpal.

Buku ajar Kuliah Sertifikasi I (Tuntunan Akhlak Muslim)

buku-11

Alhamdulillah, atas izin Allah buku ajar Serifikasi I yang membahas seluk beluk akhlak dalam isalam dapat diterbitkan. Buku ajar Sertifikasi I ini adalah buku tuntunan akhlak yang diperuntukan bagi mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan yang mengambil mata kuliah Sertifikasi I. Meskipun demikian buku ini juga dapat dibaca oleh khalayak umum untuk menambah wawasan tentang akhlak Islam.

Buku ajar Sertifikasi I ini disusun untuk memudahkan mahasiswa memahami akhlak dalam Islam. Mahasiswa diberikan wawasan teoritis dan praktis mengenai Akhlak. Mulai dari pengertian akhlak, fungsi akhlak, ruang lingkup akhlak, akhlak terhadap Allah, akhlak kepada Rasulullah, akhlak terhadap diri sendiri sampai akhlak terhadap alam semesta.

“Dari Abu Huraira ra. berkata, ” Rasulullah SAW. ditanya mengenai apa-apa yang paling banyak memasukan seseorang ke dalam syurga, lalu beliau menjawab: taqwa dan akhlak yang baik, dan beliau ditanya lagi mengenai apa-apa yang paling banyak memasukan manusia ke dalam neraka, maka beliau mengatakan: yakni orang yang tidak dapat menjaga mulut dan farjihnya.” (H.R Al-Hakim dalam Kitab Mustadrak)

Akhlak dalam Islam menempati posisi yang sangat penting, yakni sebagai misi utama di utusnya Rasulullah SAW. Dalam akhlak, tolak ukur baik dan buruknya disandarkan pada Al Qur’an dan As-Sunnah. Bukan dari pemikiran, meskipun tidak menutup kemungkinan akhlak dapat dirasionalkan hikmah dan manfaatnya. Akhlak Islam dapat diterapkan kapan dan dimana saja, karena ajaran Al-Qur’an berlaku universal, sehingga perintah-perintahnya berlaku secara universal pula. Islam diyakini sebagai rahmat untuk semesta alam, maka perintahnya pasti berdampak positif bila diterapkan dimana saja. Akhlak Islam tidak pernah bertentangan denagn nilai-nilai kemanusiaan, bahkan cenderung menjaga nilai-nilai kemanusiaan itu.

Bimbingan Baca Qur’an untuk Mahasiswa

quran4

Bagi mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan yang belum mampu membaca Al Qur’an dengan benar, silahkan untuk mengikuti bimbingan Tahsinul Qur’an yang kami selenggarakan pada:

Hari : Senin s.d Rabu

Pukul : 08.00 s.d 11.00 WIB

Tempat : Kantor Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) Kampus 1 UAD

Informasi selengkapnya bisa anda tanyakan melalui forum LPSI atau datang langsung di kantor setiap jam kerja.

PANDANGAN HIDUP MUSLIM

yunahar-ilyas

Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag.

Orientasi Dunia dan Akhirat

Kalau kita perhatikan, dalam orientasi dunia dan akhirat, umat manusia dapat dikelompokkan kepada tiga kategori:

 

Pertama

Kelompok yang menganggap hidup hanya satu kali, yaitu di dunia. Oleh karenanya harus dinikmati sepuas-puasnya. Tentang kelompok ini Allah SWT berfirman:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”. (Q.S. Al-Jatsiyah 45:24)

Kedua

Kelompok yang memburu dunia dengan meninggalkan akhirat. Namun nasib mereka malang, dunia yang dikejar tidak dapat, akhirat yang ditinggal hilang. Tepat sekali Hasan Al-Banna menggambarkan kelompok ini dalam sebuah bait sya’irnya:

نرقع دنيانا بتمزيق ديننا * ولا ديننا يببقى ولا ما نرقع

“Kita tambal dunia kita dengan merobek agma. Agama kita hilang, duniapun tidak tertolong”

Ketiga

Kelompok yang menjadikan dunia ibarat ladang untuk bercocok tanam, sedang hasilnya akan dipetik nanti di akhirat. Kehidupan di dunia ini tidak lebih ibarat permainan dan senda gurau sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Tiadalah hidup di dunia ini melainkan pemainan dan senda gurau belaka. Sesungguhnya kampung Akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Q.S. Al-An’am 6:32)

Mereka tidak menyia-nyiakan hidup di dunia karena mereka yakin, untuk mencapai akhirat haruslah melalui dunia. Mereka berpedoman pada firman Allah SWT:

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا …

“Dan carilah pada apa-apa yang  telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) untuk kehidupan di akhirat, jangan lupa bagianmu di dunia…) Q.S. Al-Qashash 28:77)

Menuju Keseimbangan Hidup

Dari ketiga kategori umat manusia di atas, tentu saja yang ideal dan sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an dan Hadits adalah kelompok ketiga yang memiliki orientasi dunia dan akhirat secara seimbang. Untuk menuju keseimbangan ini, menurut Fathi Yakan, dalam bukunya Maza Ya’ni Intimai lil Islam, diperlukan pemahaman terhadap lima hal:

1) Tujuan Hidup;

2) Nilai Dunia dibandingkan Akhirat;

3) Hakikat Kematian;

4) Hakikat Islam; dan

5) Hakikat Jahiliyah.

1)  Tujuan Hidup

Tujuan hidup seorang mukmin adalah ibadah kepada Allah SWT. Segala sesuai yang dilakukan di atas permukaan bumi ini adalah semata-mata untuk mencari keridhaan Allah SWT. Dalam hal ini Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

      “Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah  kepada-Ku” (Q.S. Adz-Dzariyat 51:56)

2)  Nilai Dunia dibandingkan Akhirat

Semua kenikmatan hidup yang didapat di dunia belum berarti apa-apa kalau dibandingkan dengan kenikmatan yang dijanjikan oleh Allah di sorga nanti. Malah dalam salah satu hadits qudsy dinyatakan oleh Allah SWT bahwa kenikmatan sorga itu sesuatu yang belum pernah dilihat oleh manusia, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam pikiran.  Tentang nilai dunia dibanding akhirat ini Allah berfirman:

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“…Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? , padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”. (Q.S. At-Taubah 9:38)

Begitu pula segala kepedihan dan kesengsaraan hidup di dunia belum apa-apa kalau dibandingkan dengan kepedihan azab neraka kelak. Bagi seorang mukmin, dunia itu ibarat penjara. Bagi orang kafir dunia itu ibarat sorga. Kenapa demikian? Karena betapapun kesenangan hidup di dunia, tak obahnya seperti penjara kalau dibandingkan dengan kesenangan hidup di sorga nanti. Sebaliknya, bagi orang kafir, betapapun susah dan menderitanya hidup di dunia, bila dibandingkan dengan siksaan di neraka, jelas masih sorga bagi mereka. Jadi tidak salah kalau Nabi Muhammad SAW mengatakan:

الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر

          “Dunia adalah penjara bagi orang yang beriman dan sorga bagi orang kafir” (H.R. Muslim)

3)  Hakikat Kematian

Setiap yang bernyawa pasti mati. Tiap-tiap orang sudah ditentukan ajalnya, tidak bisa dipercepat atau diperlambat sedetikpun. Penyebab kematian boleh bermacm-macam, tapi yang namanyamati itu tetap satu. Tidak seorangpun yang tahu kapan dia akan meninggal. Di mana dan dalam keadaan bagaimana. Oleh sebab itu sepantasnyalah setiap pribadi bersiap-siap menghadapinya. Siapkan bekal yang akan dibawa untuk kampung sejati nanti. Berbuatlah kebajikan sebanyak-banyaknya seolah-olah engkau akan mati esok hari. Ingatlah firman Allah SWT yang mengatakan:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ(26)وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ(27)

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. (Q.S. Ar-Rahman 55:26-27)

 

4)  Hakikat Islam

Memahami hakikat Islam artinya  memperdalam pengetahuan   tentang pokok-pokok ajaran Islam, hukum-hukum dan petunjuk-petunjuknya sehingga dia dapat mencapai kebaikan sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang diinginkan oleh Alah untuk diberi kebaikan, diberinya dia pemahaman terhadap agama-Nya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

5)   Hakikat Jahiliyah

Tantangan-tantangan yang datang dari jahiliyah abad 20 dan sekarang memasuki abad 21 tambah lama tambah kuat. Oleh sebab itu seorang Muslim haruslah ikut mempelajari ideologi jahiliyah, sistem jahiliyah, strategi dan metode yang mereka gunakan untuk melumpuhkan Islam, supaya umat Islam dapat membentengi diri dan malah mengalahkan para pendukung  kejahiliyahan dengan senjata mereka sendiri. Rasulullah. SAW menyatakan:

من تعام لغة قوم سلم من مكرهم

“Barangsiapa yang mempelajari bahasa suatu kaum, dia akan selamat dari makar mereka”. (H.R. Abu Na’im).

Sikap Hidup Muslim

Setelah memahami lima hal di atas, dalam hidup ini, seorang muslim haruslah memiliki sikap-sikap berikut ini:

1)    Selalu  konsisten beramal dalam Islam, karena iman itu bukan hanya tamani (angan-angan), tetapi sesuatu yang mesti dibuktikan dalam karya nyata.

2)    Selalu memperhatikan kepentingan umat Islam, karena umat Islam itu seperti satu batang tubuh yang satu sama lain sangat toleran dan solider. Juga ibarat sebuah bangunan yang saling topang menopang. Kesulitan kaum muslimin harus dipikirkan oleh umat islam secara bersama-sama. Siapa yang tidak mementingkan urusan kaum Muslimin bukanlah termasuk golongan mereka. Rasulullah SAW bersabda:

من لم يهتم بأمر المسلمين فليس منهم

“Siapa yang tidak mementingkan (tidak mau tau) dengan urusan kaum muslimin, bukanlah dia termasuk golongan mereka”. (H.R. Hakim)

3)    Mulia dengan kebenaran dan percaya bahwa pertolongan Allah akan diberikan kepada orang-orang yang menolong agama-Nya. Seorang mukmin harus berani menegakkan kebenaran dalam siatuasi macam apapun .

4)    Bertolong-tolongan meningggikan kalimat Allah dengan sesama kaum muslimin dalam jama’ah yang diridhai oleh Allah SWT, karena tugas amar ma’ruf nahi munkar adalah tugas besar yang tidak mungkin dilaksanakan seorang dirit anpa bantuan orang lain. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Bertolong-tolonganlah kamu dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kamu bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan” (Q.S. Al-Maidah 5:2).

Demikianlah, orientasi kehidupan seorang Muslim, mudah-mudahan ada manfaatnya.

Download File Ini